Rabu, 08 Mei 2013

Ketika Bosan Melanda Rumah Tangga



Pernikahan adalah suatu bentuk kerjasama antara suami dan istri namun tidak selamanya suatu pernikahan berjalan dengan mulus. Selalu ada pasang surut yang terjadi. Karena itu dibutuhkan kedewasaan kedua belah pihak untuk mengatasi semua masalah yang dapat timbul kapan saja di dalam rumah tangga Anda.
Namun kadang kala suami atau istri kurang bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau malah cenderung untuk memperkeruh suasana. Situasi yang demikian dapat membuat pernikahan menjadi tidak sehat. Hubungan yang kondisinya tak sehat tersebut, jika didiamkan, akan menjadi sakit parah. Seperti rasa jenuh terhadap situasi di dalam rumah tangga Anda yang terlalu monoton, sehingga timbullah rasa kebosanan. Setiap orang pasti akan mengalami masa-masa itu. Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali.
Profesi ibu rumah tangga menjenuhkan?
Profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi yang sungguh mulia. Namun ada kalanya dalam menjalankan tugas yang mulia ini seorang ibu rumah tangga merasakan adanya satu kejenuhan. Apakah kiranya penyebab kejenuhan itu dan bagaimanakah cara untuk mengatasinya ? Seringkali sebagai seorang ibu rumah tangga kita merasa jenuh terhadap tugas sehari-hari. Tugas yang harus diselesaikan rasanya banyak sekali, mengurus anaklah, suami, rumah, dan lain-lain. Sementara sebagai anggota masyarakat pun kita dituntut untuk memberikan peran positif yang tak kurang menyibukkan.
Kita rasanya telah berbuat banyak, mengurus anak, suami, rumah tangga, dan lain-lain, tetapi yang didapat hanya letih. Tak seorangpun yang tahu kelelahan kita. Pekerjaan masih menumpuk, ada lagi dan ada lagi. Seolah-olah tak kunjung selesai, dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Karenanya kondisi ini sering membuat seorang wanita gampang tersinggung, suka cemberut, atau bahkan mudah marah.
Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Akibatnya, kebosanan-kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga.
Penyebab Munculnya Rasa Bosan
Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun, kenyataannya, suami Anda malah down, dan sebagainya.
Ini adalah suatu gejala dimana pada masa awal hubungan Anda berdua, segala kekurangan Anda atau pasangan mungkin merupakan hal yang menyenangkan. Tetapi jika hubungan Anda mulai suram, sehingga menimbulkan gejala-gejala kecil yang menganggu. Walau ini hanya gejala yang bisa dibilang kecil, di balik itu tersembunyi pertanda bahwa anda atau dia mungkin sudah bosan dengan segala prilaku yang ditunjukan.
Penting..
Yang juga penting adalah mencoba bercermin, melakukan introspeksi terhadap diri anda sendiri. Apakah selama ini anda sudah benar-benar melakukan hal yang terbaik yang dapat anda lakukan untuk pasangan? Dan apakah Anda sudah berusaha sebaik-baiknya untuk membina hubungan yang sehat? Apapun masalahnya, jika salah satu atau kedua pihak dalam suatu hubungan yang sakit berusaha untuk menyembuhkan penyakit tersebut, pasti ada jalan keluarnya. Atau Anda juga dapat menyusun perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda kembali. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga.
Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga. Ajaklah pasangan Anda melakukan refreshing ke luar kota, atau ketempat-tempat yang menyenangkan. Untuk mencari suasana baru.
Bagaimana dengan anda bila anda dan pasangan sedang mengalami kebosanan dalam rumah tangga??? kiat kiat apa yang anda gunakan untuk mengatasi hal tersebut?

7 Tanda Bahaya Pengancam Rumah Tangga
Menjaga keutuhan rumahtangga bukan soal mudah. Banyak sekali godaan yang dapat menghancurkan hubungan. Apalagi, perkawinan adalah bersatunya 2 hati yang memiliki karakter yang berbeda. Belum lagi jika pasangan suami-istri sama-sama berkarier di luar rumah, sehingga waktu berkomunikasi dan berduaan pun menjadi sangat terbatas, yang terkadang memicu timbulnya masalah.
Coba lihat apa yang terjadi pada pasangan Haris dan Elsa. Sama-sama sukses di karier, berpenghasilan tinggi, serta memiliki kedudukan penting di kantor. Sayang, dalam hal membina rumahtangga, yang terjadi adalah sebaliknya. Nyaris tiada hari tanpa keributan. Sering, masalah pemicunya cuma persoalan sepele.
Contohnya, soal sarapan pagi. Sebagai kepala keluarga, Haris merasa harus dilayani Elsa, dan bukan oleh pembantu. “Apa gunanya punya isteri kalau tidak bisa melayani suami. Masak, sih tidak ada waktu sedikitpun untuk menemani suaminya makan,” keluh Haris pada Anton, sahabatnya.
Namun, lain lagi apa kata Elsa pada Tami, sahabatnya di kantor. “Masak, begitu saja harus diributkan. Seharusnya ia, kan tahu istrinya itu wanita karier yang harus berpacu dengan waktu. Bagaimana menemani sarapan pagi, wong berangkat ke kantor saja pukul enam pagi. Dasar, ia memang terlalu banyak menuntut. Pernah, lho kita tidak bicara selama seminggu, gara-gara soal itu!”
Ya, kasus seperti yang dialami Haris dan Elsa seringkali dianggap sepele oleh pasangan suami-istri. Sepintas, memang terlihat itu hanyalah masalah kecil. Namun, bila dibiarkan berlarut-larut, tentu bisa membahayakan keutuhan rumah tangga. Nah, sebelum terlambat, simak beberapa tanda bahaya yang bisa mengganggu dan merusak hubungan rumahtangga beserta solusinya.

1.Masalah Menumpuk
Terkadang, masalah-masalah tak diperhatikan oleh pasangan suami-istri, dan bahkan dibiarkan begitu saja. Misalnya, tak memberi perhatian. Bahkan, bisa saja hari ini pasangan kurang perhatian, besok bersikap kasar, esoknya lagi bersikap acuh pada Anda. Anda sendiri lebih memilih diam dan membiarkan masalah menumpuk. Padahal, ini salah besar. Karena bila dibiarkan terus-menerus, masalah tak bakal membaik, namun justru bertambah runyam. Pertengkaran pun tak dapat dihindari. Saling menuding dan menyalahkan satu sama lain pasti akan menghiasi hari-hari Anda dan pasangan.
- Solusi:
Sebaiknya bila ada masalah yang tidak berkenan di hati Anda, segera utarakan pada pasangan. Jangan pendam sampai menggunung. Apalagi menunggu pasangan menyadari kesalahannya. Kalau ia sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya salah, pasti ia tidak akan melakukannya pada Anda. Untuk itu, setiap kali Anda dan pasangan mengalami masalah, cobalah menyelesaikannya dengan pikiran dingin dan hati yang tenang. Pasti ada jalan keluarnya.

2.Kritik
Tak semua orang bisa menerima kritik, sekalipun kritik yang bersifat membangun. Contohnya Elsa, yang tak sudi menerima kritik dari Haris, suaminya, soal badannya yang makin hari makin mekar ke samping. Apalagi, setiap kali ia menyantap mie goreng kesukaannya, ada saja kata-kata Haris yang menyindir bentuk tubuhnya. Jelas, Elsa tersinggung. Padahal tujuan Haris baik. Bagaimana mengatasinya?
- Solusi:
Sebenarnya, untuk menyampaikan kritik yang tepat pada sasaran tidaklah sulit. Yang perlu diperhatikan adalah, cara penyampaiannya agar tidak menyinggung perasaan. Nah, pergunakanlah bahasa yang sopan dan waktu yang tepat untuk menyampaikannya.
Jangan memberi kritik saat ia berbuat sesuatu yang menurut Anda tidak benar. Jelas saja ia tidak bisa terima. Jika Anda ingin menyampaikan kritik yang membangun pada pasangan, sampaikan di saat Anda berdua menikmati waktu santai, misalnya. Misanlya, “Ma, Papa senang, lho kalau bentuk pinggang Mama diperkecil ukurannya. Biar enak merangkulnya. Kalau mama terlihat langsing, pasti akan semakin cantik!” Tentu, pasangan tidak akan tersinggung, dibanding bila Anda menyerangnya dengan kata-kata pedas.

3. Menghina
Terkadang, tanpa disadari, apa yang Anda perbuat dan ucapkan pada pasangan bisa menyinggung perasaannya. Contohnya, “Bodoh banget sih! Masak mengerjakan hal semudah itu kamu tidak mampu. Katanya sarjana tehnik, tapi teve rusak saja harus ke tukang servis!” Mendengar lontaran kata yang begitu pedas, jangan kaget jika pasangan terhina, harga dirinya terinjak-injak. Apalagi Anda membumbui dengan kata-kata, tolol, bodoh, nggak punya otak. Belum lagi bila Anda hobi menyampaikan sindiran yang bersifat sarkartis, seperti si Ompong (karena giginya ompong) atau si Tambun (karena badannya gendut). Meski maksud Anda bercanda, tetapi bukan berarti Anda dapat semena-mena menyampaikan kata penghinaan yang menyinggung perasaan pasangan.
- Solusi:
Kalaupun Anda merasa tak puas dengan cara kerja pasangan, cobalah membiasakan diri bertutur dengan kata-kata sopan, sehingga ia tidak tersinggung. “Eh, Pa! Bukannya Papa dulu pernah praktik memperbaiki teve ketika kuliah. Pasti Papa sudah lupa, ya cara kerjanya. Ayo, coba diingat-ingat lagi!” Ini jauh lebih baik dibandingkan "hinaan" Anda yang pertama tadi. 

4. Membandingkan-Bandingkan
 “Eh, si Ambar itu suaminya romantis, lho, Pa! Setiap kali tidur selalu dicium, dibelai. Kalau Papa... mana?” Sifat suka membandingkan pasangan dengan orang lain, jika dibiarkan, sungguh tak baik untuk keutuhan rumah tangga. Apalagi bila Anda membandingkan pasangan dengan orang yang lebih baik dari dia.
- Solusi:
Sadarilah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Mungkin pasangan kurang romantis, tetapi untuk urusan perhatian ia lebih jago daripada suami teman Anda. Kalaupun Anda mengizinkan pasangan berlaku sama seperti orang lain, katakan, “Pa, Mama ingin, lho dicium setiapkali Papa berangkat kerja. Seperti yang ada di teve itu lho! Papa mau, kan melakukannya untuk Mama?” Hal ini lebih baik dibandingkan Anda membandingkan dirinya dengan orang lain.

5. Diam Membisu
Inilah salah satu sikap yang "menyimpan" bahaya. Ketika pertengkaran tidak bisa dihindari, bosan ribut-ribut, maka sikap yang diambil bisanya diam membisu. Saling bertahan pada pendapat masing-masing, merasa dirinya lebih benar dibandingkan pasangannya. “Kalau dia perlu, pasti ia akan mengajak bicara duluan. Wong, yang salah dia, kok!” begitu biasanya Anda berkelit. Padahal, tanpa Anda sadari, pasangan pun bersikap serupa. Ia merasa dirinyalah yang benar, sehingga ia pun enggan memulai pembicaraan sebelum Anda menyapanya. Nah, apa yang terjadi jika kedua pihak sama-sama bersikeras mempertahankan ego-nya?
- Solusi:
Cobalah untuk berintrospeksi. Mungkin ada benarnya juga ucapan pasangan tentang diri Anda. Kalaupun Anda berencana mendiamkannya, sebaiknya bukan dalam jangka waktu lama. Sebaiknya, tujuan berdiam diri lebih untuk mencari ketenangan dan meredam emosi. Bila emosi sudah terkendali, biasanya Anda atau pasangan bisa menguasai diri. Tidak saling menyalahkan, tetapi saling memaafkan. Tapi ingat, komunikasi dan saling terbuka jauh lebih baik daripada berdiam diri.

6. Mencari Pelarian
Mencari pelarian ke tempat hiburan atau curhat ke lawan jenis sering dilakukan pasangan suami-istri yang sedang bermasalah. Dengan berbagi cerita pada orang lain, mereka merasa bebannya akan jauh berkurang. Ini memang bisa saja jalan keluar yan baik, apalagi jika orang yang diajak bicara bisa memberikan jalan keluar yang tepat. Tapi, bagaimana jika ia justru mengambil kesempatan dengan mencuri simpati Anda, atau ia justru si Kompor yang justru memanas-manasi Anda, sehingga Anda makin benci pada pasangan? Masalah pasti akan jadi lebih runyam.
- Solusi:
Sadarilah bahwa setiap rumahtangga pasti punya masalah. Tergantung bagaimana Anda dan pasangan menyikapinya, apakah mau diperkecil atau diperbesar. Nah, jika Anda merasa masalah yang Anda hadapi bersama pasangan adalah masalah besar dan tidak ada jalan keluarnya, cobalah minta orang terdekat pasangan, misalnya mertua, untuk menasihatinya. Jangan melibatkan orang ketiga dalam permasalahan rumah tangga Anda, karena jauh lebih berisiko.

7. Dendam
Suatu hari, pasangan melakukan kesalahan yang menurut Anda tak dapat dimaafkan. Misalnya, Anda pernah memergoki ia selingkuh dengan wanita lain. Apapun bentuk pernyataan maaf yang diungkapkan pasangan, tidak membuat hati Anda luluh. Sekali dendam, tetap dendam. Merasa di pihak yang benar, Anda bertahan untuk tidak mau memaafkan dan terus membenci. Nah, karena pintu maaf tidak terbuka, tak menutup kemungkinan pasangan akan mengulang kembali perbuatannya, kan?
- Solusi:
Sifat mendendam sebaiknya dibuang jauh-jauh. Apalagi dendam pada pasangan. Tentu, tak ada wanita yang tak sakit hati memergoki pasangannya berselingkuh. Namun, jika ia sudah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali, apakah Anda masih juga menaruh dendam? Kalaupun memang Anda marah, ungkapkan dengan kata-kata, ”Ingat, kali ini saya maafkan.Tetapi lain kali, tiada maaf bagimu!” Mungkin itu cuma gertakan Anda, tetapi dapat membuat pasangan berpikir dua kali untuk melakukan kesalahan yang sama.

Sumber : www.untukku.com, www.tabloidnova.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar