Senin, 15 April 2013

Bukan Musuh, Sakit Yang MembuatnyaTakluk



Penghormatan Terakhir Di Semaki

Dengan separuh paru-paru, karena yang lain rusak terkena tuberkolosis, Soedirman terus bergerilya. Dirawat di rumah sakit dengan memakai nama samaran.
Berjalan tertatih-tatih, Letnan Jenderal Soedirman memasuki rumah dinasnya di jalan Bintaran Wetan, Yogyakarta. Di depan pintu, sang istri, Siti Alfiah, menyambutnya. Soedirman pulang setelah dua pekan meninggalkan istri dan enam anaknya untuk memimpin operasi penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Madiun, Jawa Timur. Malam itu, akhir September 1948, di kediamannya yang kini menjadi Museum Sasmitaloka, Soedirman terlihat ringkih. Kepada istrinya, dia mengeluh tak bisa tidur selama di Madiun. Soedirman rupanya begitu terpukul menyaksikan pertumpahan darah yang terjadi antara rakyat Indonesia itu. Peristiwa Madiun membuat batin Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia itu nelangsa.
Selain kelelahan berat, Soedirman tertekan batinnya karena peristiwa itu. Malam itu, kendati kondisi kesehatannya turun, Soedirman tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar ia mandi air hangat tak diindahkan. Dan inilah awal petaka bagi Soedirman. Esoknya, Soedirman terkapar di tempat tidur.
Ketika ulang tahun tentara tiba, 5 Oktober 1948, Soedirman yang masih sakit, mengunjungi Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Di sana ia melakukan tabur bunga ke pusara anggota tentara korban pemberontakan PKI Madiun. Sepulang dari tabur bunga, kesehatannya memburuk. Kendati ia sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa dihilangkan. Sesekali, sembari terbaring, dia menghisap rokok kretek. Istrinya tak berani melarang. Karena  tahu Soedirman memang perokok berat.
Karena Soedirman tak kunjung pulih, maka diutuslah sejumlah dokter tentara memeriksa kesehatannya. Tim dokter muda itu mendiagnosis ia menderita tuberkolosis, infeksi paru-paru. Keluarga Soedirman meminta dua dokter senior, Asikin Wijayakusuma dan Sim Ki Ay, melakukan pemeriksaan dua dokter tersebut tak jauh beda dengan pendahulunya. Atas saran Asikin, Soedirman dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
Soegiri, bekas ajudan Soedirman, menulis bagaimana saat sang Jenderal dirawat di rumah sakit Katolik itu. Soedirman dirawat di kamar 8 Bangsal Maria, yang terdapat di bagian depan. Soedirman terkena pulmonary tuberculosis. Penyakit itu diketahui Soegiri dari dokter yang merawat Soedirman. Menurut Soegiri, obat yang dibutuhkan Soedirman hanya ada di Jakarta. Kalaupun sampai di Yogyakarta, obat itu harus melalui jalur penyelundupan. Karena Jakarta, saat itu dikuasai oleh tentara sekutu.
Karena Soedirman butuh pengamanan cepat, tim dokter memutuskan melakukan operasi untuk menyelamatkannya dengan cara membuat satu paru-parunya tak berfungsi. Komplikasinya, kata Soegiri, memang sudah sedemikian rupa, sehingga membuat dokter menempuh cara tersebut. Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernafasan. Adapun ibunya dibertahu dokterperihal operasi itu. Dan sejak itu Soedirman bernafas dengan separuh paru-parunya.
Setelah operasi, Soedirman diminta beristirahat lebih lama. Ia juga dilarang keras merokok. Menurut Soegiri, ketika hari jadi ke-25 rumah sakit itu, Soedirman khusus menulis sajak sebagai kado ulang tahun. Sajak lima alinea itu berjudul “ 25 Tahun Rumah Nan Bahagia”. Isinya, ucapan terima kasih Soedirman karena mendapat perawatan yang baik selama disana. Tulisan asli sajak itu kini diletakkan di bawah monumen  Jenderal Soedirman di area Panti Rapih. Monument itu tak jauh dari kamar Soedirman dirawat.
Sebulan melakukan pemulihan di rumah sakit, Soedirman pulang ke rumahnya di Bintaran. Ketika di rumah, Soedirman pernah beberapa kali tak bisa menahan hasrat ingin merokok. Perilaku ini, lagi-lagi, justru memperburuk kesehatannya. Soedirman pernah muntah darah. Pada 17 Desember 1948, keajaiban datang. Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat tidur. Sebelumnya, sepulang dari Panti Rapih, ia selalu terbaring di ranjang. Hari itu, kepada istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang, firasat sang Jenderal terbukti : Belanda membombardir Yogyakarta, yang saat itu Ibu Kota Indonesia. Ia pun memilih mengakhiri cutinya.
Dengan diusung tandu, hamper delapan bulan,Soedirman keluar masuk hutan memimpin gerilya dari luar Yogyakarta. Pernah suatu ketika ia tidak makan selama lima hari. Dengan perut kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di pacitan, Jawa Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Rika, suster yang merawat Soedirman, kala itu menulis pengalamannya saat bersama jenderal besar ini. Menurut dia, saat itu Soedirman dirawat dengan nama samaran : Abdullah Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat surat kabar yang naskahnya kini tersimpan juga di museum Sasmitaloka. Soedirman memakai nama samaran supaya keberadaannya tak diketahui Belanda.
Di Panti Rapih, Soedirman masih memimpin rapat kabinet bersama Presiden Soekarno membahas upaya mempertahankan kemerdekaan. Hanya dua pekan ia dirawat disana, setelah itu, Soedirman kembali ke rumah. Setelah Belanda bersedia melakukan gencatan senjata pada Oktober 1949, kesehatan Soedirman kian mencemaskan. Dokter meminta kembali ke Panti Rapih. Tapi ia memilih beristirahat di wisma tentara di Badakan, Magelang. Tapi tetirah sejuk dengan pemandangan Gunung Sumbing itu tak bisa membuat kesehatan Soedirman membaik. Tiga bulan disana, ia kerap muntah darah. Juga ditempat tidur. Dokter Husein dari Rumah Sakit Magelang bolak-balik memeriksa dan menungguinya. Dan saat itu, kondisi Soedirman tinggal tulang dan kulit saja.
Seolah-olah mendapat firasat hari kematiannya segera tiba, pada 18 Januari 1950, Soedirman memeinta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Esok harinya, ia emanggil istri dan tujuh anaknya. Seperti kepada para petinggi tentara, ia juga memberi wejangan  kepada istri dan anak-anaknya. Tak sepenuhnya pertemuan dengan keluarga diisi dengan wejangan. Soedirman juga sempat bergurau. Kepada keluarganya, misalnya, ia menyatakan sebenarnya ingin seperti Lurah Pakis, kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa meminang cucu.
Pada senin, 29 Januari 1950, Soedirman kembali dikelilingi istri dan anak-anaknya. Kondisi tubuhnya semakin lemah. Berlinang air mata, Siti Alfiah meminta suaminya tegar. Soedirman menatap istrinya dan meminta perempuan yang dikasihinya tersebut menuntunnya membaca kalimat tauhid. Satu kalimat terucap, Soedirman kemudian mangkat. Soedirman pergi dalam usia muda, 34 tahun. Esok harinya, ribuan orang ikut mengantarkan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Hari itu hujan turun lebat menguyur Kota Yogyakarta. Tembakan salvo satu regu tentara di pemakaman Semaki mengantar jenderal besar itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Di Bawah Bayang-Bayang Panglima Besar
Soedirman menginspirasi politik militer. Mengamanatkan disiplin hidup, bukan kadaver.
Di bawah limasan yang disangga sepuluh tiang itu terbujur makam sang Panglima Besar. Terletak di bagian belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Semaki, Yogyakarta, bukan hanya peristirahatan terakhir Jenderal Soedirman yang dinaungi atap. Juga dua makam di sebelah kanannya, Jenderal Oerip Soemohardjo serta Menteri Pembangunan dan Pemuda Kabinet Muhammad Hatta, Soepeno. Tepat disebelah kiri Soedirman terbaring Siti Alfian, sang istri.
Jenderal Oerip, Kepala Staf  Umum Angkatan Perang Republik Indonesia pertama, yang paling awal disemayangkan di Semaki. Ia wafat pada 17 November 1948 dalam usia 55 tahun. Dua tahun kemudian, Soedirman, yang wafat pada 29 Januari 1950, dikebumikan disana. Makam Soepeno dipindahkan dari Nganjuk, Jawa Timur, ke Semaki setahun setelah ia tewas dieksikusi Belanda pada 24 Februari 1949. Pada nisan Siti Alfian tertulis ia wafat pada 22 Agustus 1997.
Bertahun-tahun setelah Soedirman berpulang, para peziarah terus mendatangi makam. Dari pihak keluarga, yang rutin menyekar adalah Muhammad Teguh, putra bungsu Soedirman, yang setiap Selasa Kliwon, sebulan sekali, Muhammad Teguh datang untuk mendoakan ayahnya. Yang juga rutin menyambangi makam Soedirman dan Oerip adalah anggota TNI. Sejumlah perwira setidaknya menyadran Saban 5 Oktober yang merupakan Hari TNI.
Puluhan tahun yang lalu, kedua makam itu menjadi lokasi perdamaian dua kubu tentara Angkatan Darat. Terbelah sejak Peristiwa 17 Oktober 1952, TNI menyelenggarakan konferensi di Yogyakarta. Pertemuan dimulai pada 17 Februari 1955, dihadiri 280 perwira. Diakhir pertemuan pada 25 Februari, yang dihadiri Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, mereka berziarah ke makam Soedirman dan Oerip. Di makam itu para pewira bersumpah setia. Kelak, hasil persamuhan di Yogyakarta dikenal dengan sebutan “Piagam Yogya” atau “Piagam Kewuhan Angkatan Darat”. Isinya, antara lain, menyatakan bahwa tentara akan mempertahankan persatuan dan profesionalisme, serta tidak akan membiarkan politik merongrong militer. Peristiwa 17 Oktober 1952 yang memecah mereka dianggap tak pernah ada.
Peristiwa 17 Oktober bermula dari rencana pimimpin tentara, terutama dua perwira yang pernah mengecap pendidikan militer Belanda, Kepala Staf Angkatan Darat Kolonel Abdul Haris Nasution dan Kepala Staf Angkatan Perang RI Kolonel T.B. Simatupang, untuk membentuk tentara yang professional. Lantaran anggaran terbatas, Angkatan Darat memutuskan mengurangi jumlah personel. Demobilisasi rencananya dilakukan hingga akhir 1953, sehingga tentara tinggal 120 ribu dari 200 ribu. Namun rencana Nasution dan Simatupang ditentang sejumlah tentara, terutama perwira bekas Pembela Tanah Air (PETA) dan laskar. Pada awal Juli 1952, seorang perwira bekas Peta bernama Kolonel Bambang Supeno mendesak Soekarno agar Nasution diganti. Supeno adalah bekas ketua Akademi Militer Candradimuka di Bandung, yang ditutup Nasution. Setelah menemui Presiden, Supeno menyurati Menteri Pertahanan dan Parlemen, yang menyatakan ia tak percaya kepada pemimpin Angkatan Darat.
Pada 17 Juli Nasution memecat Supeno. Namun surat Supeno terlanjur diterima parlemen, yang kemudian menggelar serangkaian rapat untuk membahas persoalan di tubuh Angkatan Darat. Bola liar akhirnya mengarah pada usul bahwa parlemen bisa meminta pemerintah mengganti pemimpin militer. Campur tangan yang terlalu jauh ini membuat kesal pimpinan Angkatan Darat. Pada 17 Oktober 1952, tentara memobilisasi rakyat untuk berunjuk rasa di depan Istana, meminta Presiden membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Soekarno menggambarkan suasana pagi itu : “Dua buah tank, empat kendaraan lapis baja, dan ribuan orang menyerbu memasuki gerbang Istana Merdeka. Mereka membawa poster-poster ‘bubarkan parlemen’. Satu batalion artileri dengan empat buah meriam memasuki lapangan keliling istana. Meriam-meriam 25 pounder dihadapkan kepadaku…”
Bukan parlemen yang bubar, justru Nasution yang terlempar dari jabatannya. Pada 5 Desember 1952, ia diberhentikan. Ia juga diperiksa Kejaksaan Agung atas peristiwa “setengah kudeta” tadi. Kursi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang lowong diduduki Kolonel Bambang Sugeng, perwira eks Peta, yang sebelumnya dinonaktifkan Nasution dari Komandan Teritorium Jawa Timur. Sejumlah perwira “pro-17 Oktober”, diantaranya Wakil KSAD Letnal Kolonel Soetoko dan Komandan Teritorium Indonesia Timur Kolonel Gatot Soebroto, juga dicopot.
Selama masa nonaktif dari militer, pada 1952-1955, Nasution banyak menghabiskan waktu untuk menulis. Buah pikirannya kemudian ikut menentukan politik militer, bahkan sejarah politik Indonesia. Nasution berkaca pada pengalaman Soedirman yang berpolitik. “Beliau selalu mengambil bagian dalam pertemuan-pertemuan pemerintah maupun pihak oposisi,” Nasution menulis. Karena itu, Nasution berpendapat, tentara tak bisa menghindari politik.
Menurut pengamat militer Salim Said, Nasution juga menyaksikan bagaimana Soedirman menolak perintah Presiden Soekarno untuk tetap berada di Yogyakarta ketika kota itu hampir jatuh ke tangan Belanda pada 1948. “Pak Dirman mengamanatkan tentara disiplin hidup, bukan disiplin mati,” kata Said. Maksudnya, kesetiaan utama tentara adalah kepada negara. Tentara bisa tak mentaati perintah pemimpin politik yang dinilai keliru.
Gagasan Nasution diterapkan setelah ia resmi kembali menjabat KSAD pada 7 November 1955, Sembilan bulan setalah islah para perwira Angkatan Darat di makam Pak Dirman. Meski begitu, upayanya tak mulus. Tentara baru betul-betul leluasa berpolitik setelah Soekarno menerbitkan Dektrit 5 Juli 1959, yang memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945. Ini sesuai dengan keinginan Nasution, yang pada masa nonaktif dari militer melihat kekacauan politik disebabkan oleh ditinggalkannya UUD 1945.
Sebelum itu terjadi, islah di makam Soedirman ternyata hanya sesaat meredakan perselisihan para perwira. Awal Mei 1955, Bambang Sugeng meminta berhenti dari jabatannya. Pemerintah kemudian mengangkat Kolonel Bambang Utojo sebagai pengganti Bambang Sugeng, yang ditolak sejumlah perwira, termasuk oleh Wakil KSAD Kolonel Zulkifli Lubis, perwira dari kelompok “anti 17 Oktober”. Pada akhir Oktober 1955, pemerintah akhirnya menunjuk Nasution sebagai KSAD. Pengangkatan kembali Nasution tak langsung mendinginkan pertikaian. Sejumlah perwira membangkang ketika hendak digeser posisinya. Pertikaian Nasution dengan Zulkifli Lubis semakin runcing. Situasi bertambah pelik ketika beberapa perwira membentuk dewan militer di daerah-daerah pada 1956. Di Sumatera Barat, misalnya, Letnan Kolonel Ahmad Husein membentuk “Dewan Banteng”. Di Sumatera Utara, Kolonel Simbolon mendirikan “Dewan Gajah”. Pemberontakan baru betul-betul padam pada pertengahan 1958.
Selain sibuk menumpas pemberontak, Nasution memperjuangkan gagasannya bahwa tentara bisa berpolitik lewat Dewan Nasional, yang dibentuk pada 1957 dan di ketuai presiden. Dewan ini beranggotakan para Kepala Staf Angkatan, Kepala Kepolisian, dan Ketua Mahkamah Agung. Nasution menuntut kursi untuk tentara di parlemen dengan konsekuen militer kehilangan hak pilih dalam pemilihan umum. Dalam peringatan dies natalis Akademi Militer Nasional di Magelang pada 12 November 1958, Nasution berceramah bahwa TNI tidak bisa memainkan politik secara aktif, juga tak bisa hanya pasif. “Tentara akan mencari jalan tengah,” katanya. Ceramah itu dilaksanakan sembilan hari sebelum Dewan akhirnya menyetujui TNI sebagai bagian dari golongan fungsional, yang kemudian dikenal sebagai golongan karya. Sejak itu, hingga dwifungsi ABRI dicabut pada 2000, militer menjadi kekuatan politik.

Warisan Panglima Besar Soedirman Untuk TNI
Jika apda hari ini kita melakukan sebuah refleksi kesejarahan atas peran Panglima Besar Jenderal Soedirman, ada keinginan untuk mengenangnya dalam upaya menarik pelajaran yang dapat menarik yang dapat kita implemantasikan dalam konteks kekinian. Hal ini karena perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak dapat dilepaskan dari peran Jenderal Soedirman. Peran lain yang tidak kalah penting adalah peran Jenderal Soedirman sebagai panglima pertama Tentara Nasional yang meletakkan fondasi bagi kultur TNI. Fondasi tersebut menjadi penting karena TNI dibentuk tidak dalam masa damai melalui proses yang teratur atas sebuah tentara professional. Fondasi ini dibentuk dalam keadaan TNI telah berfungsi dan bertugas sebagai tentara kebangsaan, dimulai dari tingkat taktis yang harus merencanakan dan melaksanakan operasi sebuah kekuatan militer yang secara struktural sedang dalam proses pembentukan dan belum dilengkapi persenjataan memadai. Sedangkan tentara Belanda dan Sekutu telah hadir sebagai tentara profesional dan dilengkapi persenjataan modern.   
Pada ujung spectrum lain, secara inernal TNI juga menghadapi ujian tentang posisi, dan kewenangannya sebagai tentara yang berasal dari kekuatan rakyat dan berjuang merebut kemerdekaan. Kekuatan rakyat ini terdiri atas laskar perjuangan sebagai sayap bersenjata dari perjuangan politik serta sarat dengan kepentingan politik partisan. Dalam kondisi  seperti itulah Jenderal Soedirman membangun TNI.
Sebelum menjadi tentara, Jenderal Soedirman yang akrab disapa Pak Dirman berprofesi sebagai guru di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Ia hadir layaknya seorang bapak dalam keluarga. Karena itu, tak aneh bila ia selalu memanggil personel TNI dengan sebutan “anakku”. Kehadirannya dalam perang gerilya, walau dalam kondisi sakit berat, menambah semangat juang prajurit TNI. Paling tidak, mereka merasakan kebersamaan dengan pemimpinnya. Disisi lain, Soedirman tetap tunduk kepada pemimpin negara walau beberapa keputusan dan kebijakan mengecewakan, terutama ketika pemimpin negara menolak bergerilya melawan Belanda pada 1948.
Ditengah harapan semangant kemerdekaan dan usaha rakyat memenuhi kebutuhannya, muncul para penghasut yang berhaluan kiri. Dengan dalih menggabungkan badan-badan perjuangan dari tiga daerah yang di ketuai  Soekirman, dan Soewignjo sebagai wakilnya, pada November1945 mereka memulai gerakan. Aksi-aski anarkistis mengembang dengan sasataran gudang sandang dan pangan di Brebes, Kejambon, Margasari, Pemalang, sampai Batang. Mereka melucuti polisi, dan di Panarukan mereka berusaha menyerang sebuah asrama Tentara Keamanan Rakyat. Menghadapi persoalan semacam ini, Pak Dirman menggunakan taktik “ besi bersarung kaus”. Penumpasan hanya ditujukan kepada pihak yang harus ditumpas, tanpa menimbulkan persoalan baru. Dalam kesempatan lain, tidak lama setelah berhasil mengatasi pemberontakan Budanco Kusaeri di Gumilir, Pak Dirman berpesan kepada anak buahnya, “Jangan kamu berbuat sapu meninggalkan ikatannya. Sebatang lidi tdak akan berarti apa-apa, tapi dalam ikatan sepatu akan dapat menyapu segala-galanya.”
Dalam taktik pertempuran, Pak Dirman menunjukkan kemampuannya dalam Palagan Ambarawa. Kepemimpinan pertempuran Pak Dirman yang menonjol meliputi analisis operasi untuk menentukan sebuah keputusan taktis serta implikasi strategis yang ditimbulkan. Hal ini dibuktikan ketika pada 15 Desember 1945 pasukan pak Dirman berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dan Belanda dari Ambarawa. Tiga hari setelah hasil gemilang dalam Palagan Ambarawa, pada 18 Desember 1945, Presiden Soekarno melantik Jenderal Soedirman sebagai panglima besar.
Tantangan yang dihadapi Pak Dirman pada masa awal pembentukan TNI tidak hanya dalam medan tempur. Tantangan yang terdiri atas ancaman maut di garis depan dan perbedaan pandangan politik golongan tetap berkecambuk dalam masyarakat. Adanya perbedaan pandangan politik perjuangan membuat Pak Dirman makin prihatin. Anjuran-anjurannya tentang persatuan dan kesatuan seperti teriakan di padang pasir. Kalaupun ada pandangan Pak Dirman yang memasuki ranah politik, itu didasari kepentingan TNI untuk pencapaian tugas, bukan untuk kekuasaan. Dan tugas TNI adalah melaksanakan tugas untuk  kepentingan bangsa.
Pada kesempatan lain, tersiar berita bahwa Jenderal Mayor Soedarsono telah berhasil memasuki Istana dan berusaha memaksa Presiden membubarkan Kabinet Sjahrir. Bung Karno menolak permintaan itu dan Jenderal Mayor Soedarsono dapat dilucuti. Sementara itu, Mr Amir Sjahrifoeddin, yang berhasil meloloskan diri, juga berhasil masuk Istana. Ia melaporkan bahwa tentara telah memberontak terhadap pemerintah. Kepercayaan Presiden terhadap laporan tersebut membuat Pak Dirman tertegun. “Bagaimana mungkin tentara memberontak terhadap pemerintah. Padahal ini adalah tindakan sekelompok politikus yang menyeret beberapa oknum tentara. “Namun keputusan cepat diambil. Semua perwira Markas Besar Tentara menghadap Presiden.
Pak Dirman, yang berangkat sendiri ke Istana,melaporkan keadaan yag sebenarnya kepada Presiden bahwa tidak benar sama sekali tentara memberontak kepada pemerintah. Menghadapi laporan Pak Dirman, Presiden terdiam. Di dalam ucapan Pak Dirman terkandung nada kecewa : “Kalau memang pemerintah tidak percaya lagi kepada kami, kami beserta semua perwira Markas Besar Tentara minta dibebaskan dari tugas saat ini juga!” Presiden menolak permintaan itu. Setelah menatap satu per satu perwiranya di hadapannya, akhirnya Presiden berkata, “Saya tetap percaya kepada saudara-saudara untuk memimpin tentara. Saya minta saudara percaya kepada ucapan saya ini. Tidak begitu saja, tapi sungguh demi perjuangan yang kita hadapi!” Penyelesaian hukum terhadap mereka yang terlibat dalam Peristiwa 3 Juli dilakukan pada Maret 1947 oleh Mahkamah Tentara Agung. Jenderal Mayor Soedarsono diberhentikan dari jabatannya dan digantikan Jenderal Mayor Soesalit. Keputusan ini memulihkan nama baik Pak Dirman terhadat fitnah yang ditujukan kepadanya.
Tokoh komunis yang lama sebelum proklamasi sudah bermukim di Moskow telah kembali ke Indonesia. Tindakan Partai Komunis Indonesia makin menjurus kearah persiapan untuk merebut kekuasaan Negara Republik Indonesia. Akhirnya, meletuslah peristiwa Madiun pada September. Presiden Soekarno segera berpidato, dengan mengeluarkan ultimatum : “Ikut Musso dengan PKI-nya atau ikut Soekarno-Hatta.” Menganggapi hal ini, Markas Besar Tentara mengambil tindakan cepat. Pasukan TNI bergerak mengejar dan menumpas para pemberontak. Hati Pak Dirman terasa makin terobek-robek, tapi pendiriannya tetap. Soedirman pantang mundur menghadapi tantangan ini. Bersama staf-nya, Pak Dirman kembali mengkonsolidasikan tubuh TNI.
Pada 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman wafat. Saat itu, Presiden Soekarno tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke India. Bung Hatta selaku Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat mengucapkan pidato radio di Jakarta pada hari itu. Dalam pidatonya, Bung Hatta meyatakan , “…… Soedirman adalah orang yang keras hati yang suka membela pendiriannya dengan bersemangat. Tapi, apabila pemerintah telah mengambil keputusan, ia selalu taat dan menjalankan keputusan itu dengan sepenuh tenaganya. Jenderal Soedirman adalah orang yang sangat disipliner yang harus menjadi contoh dan teladan bagi tentara kita seluruhnya… Soedirman juga menjadi kampium dari semboyan bahwa dalam satu negara yang ada dan modern, hanya ada satu tentara dengan segala kebijaksanaannya yang ada padanya…”
Pak Dirman merupakan pemimpin yang telah meletakkan landasan bagi kejiwaan TNI karena telah merespon tantangan yang dihadapinya secara tepat. Tantangan tersebut mencakup seluruh lingkungan aspek fungsi TNI, dari taktis oprasional sampai pada penempatan posisi TNI dalam dinamika politik yang sangat tinggi. Pak Dirman ketika itu tidak hanya harus menentukan posisi TNI dalam hubungan antara TNI dan pemimpin politik, yakni bagaimanapunTNI harus tetap setia dan patuh kepada keputusan politik walau keputusan tersebut dianggap kurang menguntungkan bagi strategi militer. Di sisi lain, bagaimanapun, TNI harus mengambil posisi agar tidak tergelincir memasuki wilayah politik dan menghadapi ancaman politisasi dari partai politik. 
Semua ciri di atas tidak hanya menunjukkan bahwa TNI merupakan tentara kebangsaan, tapi juga mengandung visi untuk menjadikan TNI tentara profesional dan modern. Tentu, untuk mengambil intisari pelajaran dan nilai hakiki dari praktik kepemimpinan TNI pada waktu itu, kita harus meletakkan dalam konteks. Konteks tersebut adalah TNI merupakan wujud tentara kebangsaan dari sebuah bangsa yang berjuang (a nation in arms) yang memulai tradisi kemiliteran modern dari awal.
Pak Dirman tidak hanya memiliki karisma karena ketrampilan kepemimpinannya yang memancar dari pribadinya yang sederhana, tapi juga mempunyai visi jauh kedepan tentang TNI. Pak Dirman telah memainkan peran penting dalam membentuk TNI sebagai institusi pertahanan yang profesional dan modern serta memenuhi syarat ditinjau dari teori hubungan sipil-militer dalam konteks kekinian. Kepatuhan dan kesetiaan kepada pemimpin politik adalah visi Pak Dirman yang memberi fondasi sangat penting bagi TNI dalam dinamika hubungan sipil-militer yang tidak pernah surut dan merupakan wujud dari nilai bahwa TNI adalah alat negara, bukan alat kekuasaan. Kitanya terhadap persatuan dan kesatuan dapat kita simak dari anjurannya ditengah konflik politik yang mengancam perpecahan bangsa. Konsistensi perjuangan Pak Dirman terhadap jati diri TNI sebagai tentara kebangsaan merupakan wujud semangat pantang mundur untuk menegakkan proklamasi walau dalam kondisi fisik yang lemah. Sungguh TNI patut bersyukur mempunyai seorang panglima besar dalam diri Soedirman pada masa-masa pembentukannya.   

Sumber : Majalah Tempo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar